Kesalahan Sintaksis dalam Tulisan Bahasa Inggris Mahasiswa dan Upaya Perbaikannya melalui Teknik Menulis Kolaboratif
By Didi Sukyadi
Abstract
Syntactical errors in students’ composition have been a phenomenon
that both writing teachers and other faculty members have complained
about. They observe that syntactic errors exist not only in freshman but
also in senior student writing. It is not surprising if final papers
the students write are so replete with errors that the process of paper
writing takes a long time than it is necessary and thus students’ period
of study is also getting longer. If this problem cannot be eliminated
until they graduate, it will create a new problem. This is the root of
syntactic errors that we often find in textbooks or student worksheets
written by teachers in secondary schools. This study tries to look at
some variables that are suggested to be responsible for creating the
syntactic errors like syntactic knowledge, analytic skill, and
paraphrasing skill. After these variables are examined, this study also
offers the solution to it through collaborative writing technique. Using
both ex-post-facto and experimental designs involving 70 students who
have got Writing I-IV, Structure 1-IV, Grammar, and Syntax at Indonesia
University of Education (UPI), this study concludes that collaborative
writing is effective in eliminating errors in students’ writing. The
implication of the findings is further discussed.
Key words: Syntactical errors, Syntactical knowledge, analytic skill, paraphrasing skill, and collaborative writing.
PENDAHULUAN
Bahasa bukanlah sekedar untaian kata karena bahasa adalah kumpulan
kata yang dirangkai secara apik sehingga bermakna. Oleh karena itu,
untaian kata yang dirangkai menjadi sebuah kalimat harus memenuhi kaidah
sintaktik dan semantik karena keduanya tidak dapat dipisahkan dalam
sebuah kalimat. Dengan kata lain, kata dirangkai manjadi kumpulan yang
disebut frasa yang pada gilirannya secara lebih luas lagi dirangkai
menjadi kalimat. Untuk merangkai kalimat yang secara gramatikal benar,
diperlukan kaidah. Kaidah inilah yang disebut dengan sintaksis.
Keterampilan merangkai kata, baik dalam tingkat morfologis maupun
sintaksis, sangat diperlukan dalam keterampilan menulis sebuah komposisi
seperti esei, artikel, dan karya ilmiah lainnya.
Menulis merupakan keterampilan yang dapat digunakan untuk
mengungkapkan perasaan dan juga gagasan. Dengan demikian, keterampilan
menulis akan bergantung pada penyusunan kalimat yang secara sintaksis
baik dan benar dan juga bagaimana menyusun gagasan tersebut sehingga
menjadi sebuah tulisan yang menggambarkan pemikiran tentang sesuatu yang
ingin diungkapkan. Sebuah tulisan yang baik perlu memperhatikan
kaidah-kaidah, baik kaidah semantik maupun sintaktik.
Sekaitan dengan hal tersebut di atas, Hughey dkk. (1983) menegaskan bahwa
“Rules of semantics and syntax govern the processing of spoken and writen discourse.”
Pernyataan ini menunjukkan pentingnya hubungan antara makna dengan
sintaksis. Agar sebuah tulisan itu komunikatif antara penulis dengan
pembacanya, tingkat keterpahaman, pengetahuan umum, dan kesesuaian
harapan antara penulis dan pembacanya harus terjadi. Kesalahan pada
sintaksis dapat menyebabkan terputusnya komunikasi antara penulis dengan
pembacanya.
Dengan demikian, menulis sebuah komposisi, apakah tulisan karya
ilmiah maupun nonkarya ilmiah memerlukan kemampuan mengekspresikan
gagasan dalam kalimat yang mengikuti kaidah sintaksis dan dalam
mengorganisasikan kalimat-kalimat tersebut sehingga menjadi satu
kesatuan yang terpadu secara koheren. Di sisi lain, kemampuan
mengorganisasikan kalimat juga tergantung pada kemampuan sintaksis.
Kemampuan menyusun kalimat yang secara sintaksis baik dan benar sangat
diperlukan dalam keterampilan menulis. Sulitnya menulis sebuah komposisi
kemungkinana besar disebabkan oleh karena kemampuan ini merupakan
keterampilan yang kompleks yang memerlukan keterampilan berbahasa
tingkat tinggi lainnya. Read (1978), misalnya, berpendapat bahwa
keterampilan mengadaptasi, memanipulasi, memilah, mengoreksi, dan
menilai bahasa tampaknya memegang peranan penting dalam tiga proses,
yaitu belajar membaca dan menulis, belajar bahasa asing, dan merespon
atas harapan sosial. Hal lain yang diperlukan seorang penulis adalah
pengetahuan dan keterampilan menyusun kalimat secara eksplisit.
Kesalahan sintaksis sering ditemukan dalam dalam tulisan yang
berbahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari seperti pada media cetak
yaitu koran dan majalah dan juga pada media elektronik seperti dalam
warta berita TVRI atau radio. Ketiadaan subyek yang disebabkan oleh
subyek kalimatnya merupapakan frase preposisi sering ditemukan dalam
media cetak dan dalam media elektronik tersebut. Kalimat seperti
“Dengan adanya krisis moneter yang berkepanjangan menyebabkan angka inflasi yang terus meningkat sejak tahun 1997” seringkali
terdengar dalam berita radio maupun televisi atau terbaca dalam koran
atau majalah. Kalimat seperti ini tidak benar karena subyeknya adalah
frase preposisi. Dengan demikian, frase
“Dengan adanya krisis moneter yang berkepanjangan” tidak bisa dijadikan subyek kecuali apabila kata
“Dengan”-nya dihilangkan.
Kesalahan
seperti ini sering tidak disadari oleh para penggunanya. Yang paling
menyedihkan, kesalahan seperti ini bukan hanya dilakukan oleh masyarakat
awam tetapi juga oleh masyarakat akademik.
Harian Umum Pikiran Rakyat tanggal 11 Agustus 1999 dalam salah satu rubriknya memuat sebuah kalimat,
“Darah, jiwa, raga, dan harta telah menyatu pada bumi Indonesia, menjadi saksi berdirinya negara Republik Indonesia.”
Jika dilihat secara sepintas kalimat ini sepertinya benar, tetapi bila
dilihat secara cermat kalimat tersebut tidak benar karena predikat
“menjadi” belum memiliki subyek. Seharusnya kalimat tersebut diperbaiki dengan menambah kata
“yang” antara kata
“harta” dan
“telah” serta menghilangkan koma yang muncul setelah kata
“Indonesia”. Dengan demikian, kalimat tersebut akan berbunyi
“Darah, jiwa, raga, dan harta yang telah menyatu pada bumi Indonesia menjadi saksi berdirinya negara Republik Indonesia.”
Dalam karya ilmiah mahasiswa juga sering ditemukan kesalahan serupa seperti pada kalimat “
Berdasarkan paparan di atas mengungkapkan bahwa….” Kalimat ini tidak memiliki subyek. Seharusnya kalimat ini berbunyi: “
Berdasarkan paparan di atas penulis mengungkapkan bahwa ….” Dengan demikian, yang menjadi subyek dari kalimat ini adalah kata
penulis. Kesalahan
seperti itu sering juga muncul pada skripsi yang berbahasa Inggris,
seperti kalimat berikut ini yang tidak memiliki subyek. Kalimat tersebut
berbunyi
With watching television, especially English film, can exercise and learn, ….”.
Ada dua kesalahan pada kelimat ini: pertama kalimat ini menggunakan
preposisi yang salah sebelum frase watching televison, dan yang kedua
tidak memiliki subyek. Agar kalimat ini menjadi lengkap dan memiliki
subyek dan predikat yang jelas harus berbunyi:
“By watching television especially English film a language learner can exercise and learn, ….”.
Kalimat seperti itu, yaitu yang tidak memiliki subyek banyak ditemukan
pada tulisan mahasiswa-mahasiswa yang kemahiran berbahasanya
sedang-sedang saja.
Kesalahan sintaksis ini perlu diperhatikan karena akan mengurangi
kemulusan aliran gagasan yang disampaikan. Kesalahan sintaksis juga akan
menyita waktu menulis hanya untuk membetulkan kalimat saja. Dalam
proses penulisan skripsi permasalahan seperti ini akan membuat masa
penulisan skripsi lebih lama yang pada gilirannya juga akan
memperpanjang masa studi. Panjangnya masa studi akan menyebabkan proses
belajar mengajar menjadi tidak efisien dan akan meningkatkan biaya
pendidikan. Dengan demikian, agar proses pendidikan lebih efisien,
kesalahan sintaksis yang terjadi perlu diperkecil sehingga masa
penulisan skripsi dapat dipercepat. Sejalan dengan permasalahan ini,
penelitian ini akan berfokus pada bagaimana mengatasi kelemahan siswa
dalam kesalahan sintaksis dan hal-hal yang mungkin menjadi faktor
penyebab terjadinya kesalahan sintaksis dalam proses menulis. Dengan
demikian, hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi masukan yang
bermakna untuk memperbaiki kualitas karya ilmiah mahasiswa terutama
dalam mempercepat proses penulisan skripsi.
Oleh karena kesadaran sintaksis sangat diperlukan dalam proses
penulisan karya ilmiah, penelitian ini akan mencoba melihat bagaimana
kaitan antara pengetahuan sintaksis yang dimiliki seseorang dengan
kesadaran dalam menghindari kesalahan sintaksis. Kesadaran sintaksis
dapat dilihat dari banyaknya kesalahan sintaksis dalam karya tulisnya,
dari kemampuan analitiknya, serta dari kemampuan memparafrase. Setelah
itu, kajian ini akan mencoba menyuguhkan salah satu upaya memperbaiki
kesalahan sintaksis itu melalui sebuah teknik yang dikenal dengan label
menulis kolaboratif.
Masalah Penelitian
Permasalahan yang dikaji pada penelitian dirumuskan dalam
pertanyaan-pertanyaan berikut ini. 1) Adakah hubungan antara pengetahuan
sintaksis dengan banyaknya kesalahan sintaksis dalam karya tulis
mahasiswa? 2) Adakah hubungan antara kemampuan sintaktik dengan
kemampuan analitik?, 3) Adakah hubungan antara kemampuan sintaktik
dengan kemampuan memparafrase?, 4) Apakah dampak menulis secara
kolaboratif terhadap kesalahan sintaktik dalam proses menulis?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang disuguhkan di atas
, penelitain ini mempunyai tujuan-tujuan berikut.
- Mengkaji hubungan antara pengetahuan sintaktik dengan kesalahan
sintaktik guna melihat apakah kesalahan sintaksis yang dilakukan
mahasiswa disebabkan oleh pengetahuan sintaksis yang dimilikinya atau
oleh faktor lain. Dengan demikian, kajian ini berfokus pada upaya
mengatasi kelemahan dalam pengetahuan sintatik.
- Mengkaji hubungan antara kemampuan sintaktik dengan kemampuan
analitik sebagai upaya untuk melihat faktor-faktor apa saja yang perlu
diperbaiki dalam upaya meminimalkan kesalahan sintaksis dalam karya
tulis mahasiswa.
- Mengkaji hubungan antara kemampuan sintaktik dengan kemampuan
memparafrase sebagai upaya pembenahan kemampuan sintaktik sehingga akan
bermanfaat ganda—meminimalkan kesalahan sintaktik dan meningkatkan
kemampuan parafrase yang sangat diperlukan dalam proses menulis.
- Mengkaji dampak menulis secara kolaboratif terhadap kesalahan
sintaktik dalam proses menulis sebagai masukan apakah proses ini dapat
dijadikan panduan untuk meminimalkan kesalahan sintaksis dalam proses
menulis.
Manfaat Penelitian
Dengan mengkaji berbagai permasalahan di atas,
penelitian ini diharapkan akan memiliki manfaat teoretis maupun praktis.
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini meliputi hal-hal
berikut.
- Dengan mengkaji hubungan antara pengetahuan sintaksis dengan
kesalahan sintaksis yang diteliti dalam karya ilmiah mahasiswa, hasil
penelitian ini diharapkan akan berguna sebagai masukan dalam
meningkatkan pengajaran menulis dengan mencoba meminimalkan kesalahan
sintaksis dengan cara mengatasi kelemahan dalam pengetahuan
sintaksisnya.
- Dengan mengkaji hubungan antara kemampuan sintaksis dengan kemampuan
analitik faktor-faktor yang bisa dijadikan fokus untuk meminimalkan
kesalahan sintaksis dalam karya tulis mahasiswa dapat diketahui. Hal ini
diharapkan akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas proses
belajar mengajar.
- Dengan mengkaji hubungan antara kemampuan sintaksis dengan kemampuan
memparafrase, kemampuan sintaksis mahasiswa dapat dibenahi sehingga
diharapkan akan meminimalkan kesalahan sintaksis dan meningkatkan
kemampuan memparafrase.
- Dengan melakukan eksperimen untuk mengkaji dampak menulis secara
kolaboratif terhadap kesalahan sintaksis dalam proses menulis, hasil
penelitian diharapkan akan bermanfaat sebagai masukan jika teknik ini
dapat dijadikan panduan dalam meminimalkan kesalahan sintaksis dalam
proses menulis.
KAJIAN PUSTAKA
Mengapa Sintaksis Menjadi Masalah?
Sebagaimana dikemukakan pada bagian sebelumnya dari laporan
penelitian ini, bahasa bukan sekedar untaian kata. Bahasa terdiri atas
kalimat-kalimat yang dirangkai berdasarkan kaidah sintaksis. Jadi,
sintaksis adalah cabang ilmu yang berurusan dengan bagaimana kata-kata
dirangkai menjadi frase atau kalimat yang secara gramatikal benar dan
secara semantik berterima. Selain itu sintaksis juga berurusan dengan
penentuan kaidah yang dapat digunakan untuk menganalisis frase dan juga
kalimat. Van Valin Jr dan LaPolla (1997) menyatakan bahwa
“The term “syntax” is from the Ancient Greek
syntaxis, a
verbal noun which literally means “arrangement” or “setting out
together.” Traditionally it refers to the branch of grammar dealing with
the ways in which words, with or without appropriate inflections, are
arranged to show connections of meaning within the sentence.” (Matthews
1982:1 dalam Valin Jr dan LaPolla, 1997:1)
Inti dari pernyataan di atas yaitu bahwa istilah sintaksis berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu
syntaxis yang
berarti nomina verba yang artinya susunan atau rangkaian. Secara
tradisional, kata sintaksis merujuk pada cabang gramatika atau
linguistik yang berurusan dengan bagaimana kata dirangkai dengan atau
tanpa infleksi yang patut sehingga tampak hubungan makna dalam kalimat
tersebut.
Dengan mengetahui struktur kata pada tataran morfologis, kita bisa
mengembangkannya ke tingkat bagaimana kata dirangkai menjadi unit
gramatika yang lebih luas yaitu kalimat. Aarts dan Aarts (1988)
menyatakan bahwa:
“It is evident that a language is not simply an inventory of words.
Words combine to form a larger unit called phrases, which, in turn,
combine to form sentences. It is the task of syntax to establish the set
of rules that specify which combinations of words constitute
grammatical strings and which do not.” (Aarts dan Aarts, 1988:5)
Pernyataan ini menjelaskan bahwa bahasa bukan merupakan rangkaian
sejumlah kata tetapi merupakan kata yang disusun menjadi kata bentukan
pada tataran morfologis dan frase serta kalimat pada tataran kalimat.
Untuk ketiganya diperlukan kaidah-kaidah yaitu kaidah morfologis untuk
pembentukan kata sedangakan sintaksis adalah seperangkat aturan yang
diperlukan untuk menyusun kalimat sehingga menjadi kalimat bermakna
dengan struktur gramatikal yang benar. Misalnya, untaian kata berikut
ini bukan kalimat.
The news sick that mother at was her not surprised was all her.
Kalimat tersebut hanyalah merupakan untaian sejumlah kata dan bukan
kalimat karena tidak mempunyai makna. Oleh karena itu, agar bermakna
untaian kata tersebut harus direvisi menjadi kalimat berikut.
The news that her mother was sick was not surprised her at all.
Pentingnya sintaksis dalam menulis sebuah komposisi mendorong
pemikiran bahwa sintaksis harus diajarkan sejak awal karena kesalahan
sintaksis dapat mengaburkan makna. Untuk menghindari kesalahan sistaksis
dan agar sebuah kalimat itu baik secara sintaktik maupun semantik
menyampaikan pesan yang dimaksud secara benar, sebuah kalimat harus
memperhatikan kaidah-kaidah sintaksis diantaranya struktur kalimat
sejalan dengan makna kata dan menghindari makna yang bias
(structural ambiguity).
Susunan kata akan menentukan pesan yang disampaikan.
Terdapat kemungkinan bahwa dua buah kalimat yang jumlah katanya sama
tetapi susunan sintaksisnya berbeda akan membedakan makna. Misalnya
kalimat-kalimat berikut walaupun kata-katanya maupun jumlahnya sama
mempunyai pesan yang berbeda.
“Adhi wants to marry Tety.”
“Adhi wants Tety to marry.”
Kalimat pertama mengandung pesan bahwa
Adhi ingin menikahi Tety sedangkan kalimat kedua mengandung makna bahwa
Adhi menginginkan Tety menikah dengan orang lain.
Kesalahan sintaksis bukan hanya disebabkan oleh susunan kata dalam
kalimat akan tetapi juga karena kalimat tersebut mengandung makna ganda
yang bias atau
ambiguous. Misalnya kalimat-kalimat berikut maknanya tidak jelas atau
ambiguous.
“Ricky likes Mona more than Bima.”
Kalimat di atas disebut bias atau
ambiguous karena melahirkan lebih dari satu penafsiran sebagai berikut.
Makna 1: Ricky menyukai Mona lebih daripada Bima menyukai Mona.
Makna 2: Ricky menyukai Mona lebih daripada Ricky menyukaiBima.
Sekaitan dengan definisi sintaksis sebagaimana diketengahkan pada
bagian sebelumnya, Richard, J. (1985) mendefinisikan sintaksis atau
syntax sebagai berikut.
“Syntax is the study of how words combine to form sentences and the rules which govern the formation of sentences. “
Definisi ini pada dasarnya sama dengan definisi-definisi yang
dikemukakan pada bagian sebelumnya yaitu kaidah yang digunakan untuk
merangkai kata menjadi frase atau kalimat dan kaidah yang digunakan
untuk menganalisis kalimat.
Mengapa Kesalahan Sintaksis Terjadi?
Apa yang dimaksud dengan kesalahan sintaksis? Yang dimaksud dengan
kesalahan sintaksis dalam penelitian ini yaitu kesalahan pada tatanan
gramatikal. Kesalahan sintaksis dalam proses menulis dalam bahasa asing
akan berbeda dengan dalam proses menulis dalam bahasa Ibu. Faktor
penyebabnyapun akan berbeda. Kesalahan sintaksis dalam proses menulis
dalam bahasa Ibu keseringannya hanya karena faktor kecerobohan atau
faktor kesadaran terhadap bahasa rendah. Dalam proses menulis karya
ilmiah dengan menggunakan bahasa target, kesalahan sintaksis mungkin
disebabkan oleh berbagai faktor, seperti interferensi dari bahasa ibu
atau juga karena perbedaan kaidah gramatikal antara bahasa ibu dengan
bahasa target.
Kesalahan sintaksis yang berkaitan dengan ketiadaan subyek sering
ditemukan dalam skripsi mahasiswa. Hal ini besar kemungkinan merupakan
interferensi dari kebiasaan atau kecerobohan pada waktu menulis dalam
bahasa Ibu. Kesalahan sintaksis lainnya yang sering ditemukan dalam
skripsi mahasiswa adalah kesalahan dalam
tenses dan
pluralizing atau penjamakan nomina maupun verba
. Kesalahan
sintaksis seperti ini merupakan kesalahan yang berkaitan dengan
interferensi dari bahasa Ibu karena bahasa Indonesia, misalnya, tidak
mengenal
tenses ataupun
pluralizing. Dalam bahasa Indonesia untuk menyatakan
“Aku punya sebuah buku. dengan kalimat
Aku punya dua buah buku, kata
buku tetap saja tidak menjadi
bukus. Sebaliknya, dalam bahasa Inggris
a book dengan
two books berbeda karena untuk benda yang lebih dari satu harus dibubuhi sufiks
s di belakang kata tersebut.
Dalam belajar bahasa asing, dalam hal ini belajar bahasa Inggris,
bahasa ibu sedikit banyak akan sangat berpengaruh. Brown (1994)
menyatakan bahwa ada dua macam interferensi dari bahasa ibu terhadap
pemerolehan bahasa asing—
interfering dan
facilitating. Kesalahan
dalam kategori interferensilah yang menyebabkan terjadinya kesalahan
sintaksis. Brown (1994) secara lengkapnya menyatakan bahwa:
“…. the native language of every learner is an extremely significant
factor in the acquisition of a new language. Most of the time, we think
os the native language as exercising an interfering effect on the
target language, and indeed the most salient, observable effect does
appear to be one of interference. The majority of a learner’s error in
producing the second language, … stem from the learner’s assumption that
the target language operates like the native language” (Brown, 1994:
26)
Dari pernyataan di atas terlihat jelas bahwa kesalahan sintaksis bisa
terjadi di antaranya karena adanya interferensi dari bahasa ibu
sehingga menyebabkan siswa berasumsi bahwa bahasa asing mempunyai kaidah
yang sama dengan bahasa ibu. Apabila melihat salah satu penyebab
kesalahan sintaksis, kesalahan tersebut keseringannya disebabkan oleh
asumsi bahwa bahasa asing mempunyai kaidah yang sama dengan bahasa ibu.
Implikasinya adalah bahwa dalam mengajar bahasa asing siswa harus
disadarkan akan perbedaan kaidah dari setiap bahasa. Siswa harus
disadarkan bahwa setiap bahasa mempunyai kaidah yang berbeda-beda dan
mempunyai karakteristik yang berbeda pula. Selain itu, Brown menyarankan
bahwa kesalahan siswa dalam sintaksis yang disebabkan oleh interferensi
dari bahasa ibu dapat diperbaiki dengan cara membuat siswa kenal akan
kesalahan-kesalahan umum yang biasa dibuat siswa dalam belajar bahasa
asing. Selain itu, siswa juga perlu dibuat menjadi sadar bahwa
pengetahuan dalam bahasa ibu juga dapat dimanfaatkan dalam belajar
bahasa target karena pengaruh bahasa ibu itu ada yang
interfering dan ada juga yang
facilitating. Yang
facilitating
inilah yang dapat dimanfaatkan dalam belajar bahasa target. Untuk
menghindari kesalahan sintaksis yang disebabkan oleh interferensi dari
bahasa ibu sebaiknya siswa diminta untuk berfikir langsung dalam bahasa
target.
Dengan berpegang pada pikiran bahwa pengaruh bahasa ibu itu ada yang
interfering dan
facilitating, sebaiknya yang
facilitating ini
dimanfaatkan secara baik dalam proses menulis yang berbahasa target.
Penelitian Lengkanawati (1990) menunjukkan adanya korelasi antara
kemampuan menulis dalam bahasa ibu dengan dalam bahasa asing. Apabila
seorang siswa karya tulisnya dalam bahasa ibu baik, maka tulisannya
dalam bahasa asing juga akan baik. Temuan lainnya menunjukkan adanya
korelasi yang signifikan antara aspek logika (kemampuan mangaitkan isi
dengan topik dan mengorgasisasikan gagasan secara keheren) dengan aspek
linguistik (pemilihan kata, penggunaan bahasa, dan mekanik penulisan).
Laporan lainnya menunjukkan adanya kaitan antara kemampuan kebahasaan
dengan kemampuan analitik. Sebagaimana dilaporkan Hamied (1997) dan
Lengkanawati (1990) dalam laporan penelitiannya, hasil penelitian
menunjukan adanya kaitan yang erat antara kemampuan kebahasaan dengan
kemampuan analitik. Jadi pelibatan kemampuan analitik dalam penelitian
ini karena adanya bukti empiris yang memperlihatkan kaitan yang erat
antara kemampuan analitik dengan kemampuan linguistik. Dengan demikian,
apabila buruknya kemampuan linguistik itu disebabkan oleh kemampuan
analitiknya, maka kedua variabel itu perlu diperhatikan dalam
memperbaiki kesalahan sintaktik mahasiswa.
Kesadaran Linguistik Dengan Keterampilan Menulis
Kedua penelitian di atas memperlihatkan bahwa pengetahuan dan
keterampilan menyusun kalimat secara eksplisit diperlukan dalam proses
menulis. Dalam kaitan dengan ini, Smith-Lock (1991) meneliti bahasa
lisan dan tertulis dari 18 orang pembaca normal dan 11 orang pembaca
lemah yang memasuki sekolah dasar yang melayani kelas pekerja. Dengan
menggunakan 10 kalimat yang disampaikan secara lisan dan tertulis,
sarjana ini menemukan bahwa murid yang mempunyai kesadaran morfologis
secara eksplisit dalam karya tulisnya lebih banyak ditemukan kalimat
yang secara gramatik benar ketimbang mereka yang kesadaran eksplisitnya
terbatas.
Kesadaran eksplisit dikenal dengan istilah
metalinguistic awareness, yakni
semua kemampuan yang berkenaan dengan penilaian, refleksi, gagasan,
pengetahuan mengenai struktur bahasa, dan fungsi aturan-aturan
penggunaannya. Manurut Bialystok dan Ryan (1985) pemilikan kesadaran ini
melibatkan pemilikan pengontrolan proses linguistik dan analisis
pengetahuan linguistik. Kontrol proses linguistik merupakan komponen
eksekutif yang bertanggung jawab atas pemusatan perhatian dan atas
pemilihan dan penggabungan informasi. Misalnya, kemampuan yang
diperlukan dalam tugas mengubah kata “I” pada kata “ice” dalam kalimat,
“Ice is cold”. Analisis pengetahuan linguistik adalah kemampuan membuat
struktur dan menjelaskan pengetahuan linguistik.
Komponen-komponen kesadaran metalinguistik seperti kesadaran
gramatik, fonologik dan kata mempunyai peran yang berbeda dalam belajar
membaca (Tunmer & Bowey, 1980). Jika seorang anak telah menguasai
aturan hubungan antara huruf dengan bunyi suatu bahasa, dia akan mulai
secara sadar menyusun pengelompokan kelompok sintaksis yang lebih
tinggi. Dengan demikian dia harus menggunakan pengetahuan sintaksis
bahasa lisan untuk digunakan dalam sintaksis bahasa tulis. Proses ini
memerlukan kesadaran sintaksis untuk merefleksikan ciri-ciri struktur
bahasa lisan. Argumentasi ini diperjelas oleh temuan Bowey (1986) yang
menunjukkan bahwa pembaca yang kurang mahir mengalami hambatan dalam
mengidentifikasi ketepatan bentuk gramatik suatu kalimat dan hambatan
ini menyebabkan kegagalan dalam memonitor pemahaman membaca yang sedang
berlangsung. Menurutnya, kesadaran sintaksis berkorelasi dengan
kemampuan membaca lisan.
Siegel & Ryan (1988) meneliti perkembangan sebuah variasi
kesadaran sintaksis dengan keterampilan fonologis pada 138 anak normal,
65 anak yang mengalami kesulitan membaca, dan 15 orang anak yang
mengalami kesulitan konsentrasi. Responden tersebut berusia 7 sampai
dengan 14 tahun. Salah satu temuan mereka menunjukkan bahwa kesadaran
gramatik secara signifikan berkaitan dengan berbagai keterampilan
membaca. Pemerolehan keterampilan membaca sangat terkait dengan
perkembangan keterampilan fonologis dan sintaksis dan kelemahan dalam
kedua bidang ini akan menimbulkan kesulitan dalam pemerolehan
keterampilan menulis.
Dalam kaitan dengan keterampilan menulis, Widdowson (1983)
mengemukakan bahwa aturan linguistik memegang peranan penting dalam
negosiasi pengalihan informasi antara penulis dengan pembaca dalam
proses menulis yang mandiri. Untuk menyampaikan gagasan, susuanan
sintaksis suatu kalimat harus medukung struktur makna yang
dipersepsikannya. Semakin konsisten struktur sintaksis memperkuat atau
merefleksikan struktur semantik, maka semakin mudah pembaca memahami
struktur makna tersebut. Sejalan dengan pendapat tersebut, Duques (1989)
berpendapat bahwa tuntutan ortografi dan linguistik berkorelasi dengan
kesulitan yang dialami dalam menulis. Menurutnya, dalam proses menulis
kesulitan penggunaan unsur sintaksis dapat muncul dari dua sumber
persoalan. Pertama, karena menulis merupakan kegiatan linguistik maka
kesalahan sintaksis dapat merefleksikan masalah umum dalam produksi
bahasa. Kedua, karena menulis memerlukan proses mental yang lebih tinggi
ketimbang proses mental yang diperlukan dalam berbicara, kekurangan
atau ketidaksempurnaan sintaksis dalam menulis dapat timbul akibat
berlebihnya beban sistem pemrosesan dalam menulis ketimbang masalah
umum yang berasal dari masalah produksi bahasa. Lemahnya kesadaran
gramatik terkait dengan banyaknya penghilangan unsur morfologis dalam
menulis.
Lebih khusus dari Duques, Smith-Lock (1991) mengemukakan bahwa
menulis membutuhkan banyak keterampilan di luar keterampilan yang
dibutuhkan dalam berbicara. Untuk mengingat kalimat yang tersusun cukup
panjang, seorang penulis harus memiliki kemampuan menggunakan ingatan
jangka pendek yang mahir dan memadai. Selain mengingat apa yang telah
dituliskan, penulis juga harus mengetahui teknik menulis. Tuntutan ini
menghendaki pemahaman bagaimana sistem menulis mewakili bahasa lisan.
Menurut Duques, kesadaran fonologis, morfologis dan sintaksis dikaitkan
dengan keterampilan membaca dan menulis yang baik. Wujud struktur
morfologis dikaitkan dengan pengetahuan morfologis yang tersirat dan
yang tersurat. Penulis yang kurang mahir kemungkinan besar membuat
kesalahan gramatikal dan anak yang mempunyai pengetahuan gramatik yang
eksplisit cenderung akan semakin sedikit melakukan kesalahan sintaksis
dan mampu menulis secara lebih baik.
Kesalahan Sintaksis Dan Kedwibahasaan?
Dalam kaitan dengan transfer keterampilan dari bahasa pertama (B1) ke
bahasa kedua (B2), Cummins (1978) menyimpulkan bahwa manfaat yang
timbul dari interaksi dengan B2 terbatas pada anak yang kemampuan dalam
masing-masing bahasa itu berada di atas tingkat minimal
(threshold level).
Para pendukung hipotesis analisis kontrastif (CA) meyakini bahwa
pembelajar B2 mengalami kesulitan dalam mempelajari bahasa tersebut pada
umumnya disebabkan karena terdapat perbedaan antara B1 dengan
2.
Appel dan Muysken (1987) berpendapat bahwa jika bahasa (A) berbeda
dengan bahasa (B) dalam struktur (X), maka struktur ini akan sulit
diperoleh bagi penutur asli (A) yang mempelajari bahasa (B).
Namun demikian transfer tidak selalu negatif. Bindman dan Nunez
(in press)
meneliti 116 anak (berumur 6 hingga 11 tahun) yang mempelajari bahasa
Yahudi dan Bahasa Inggris sebagai B2. Anak tersebut dites kesadaran
kosakata dan morfo-sintaksisnya dalam Bahasa Yahudi dan bahasa Inggris
dan dites mengenai ejaan kata-kata bahasa Ingggris yang diatur oleh
kaidah morfologi ketimbang fonologi. Mereka melaporkan bahwa pengetahuan
morfo-sintaksis (tetapi bukan kosakata) secara signifikan berkorelasi
dengan pengetahuan morfo-sintaksis Bahasa Inggris, dan ejaan morfologis
bahasa Inggris. Hasil itu menunjukkan bahwa pembelajar B2 dapat
mengambil keuntungan dari pendekatan yang menekankan pada kesejajaran
linguistik antara kedua bahasa mereka walaupun kelihatannya kedua bahasa
itu sangat berbeda.
Verhallen dan Schoonen (1993) yang meneliti hubungan pengetahuan leksikal dalam bahasa ibu atau bahasa pertama (B1)
dengan
dalam bahasa kedua (B2) yang melibatkan 40 orang siswa bilingual bahasa
Turki dan Belanda. Temuan penelitiannya bertolak belakang dengan temuan
penelitian Bindman dan Nunez
(in press). Temuan penelitiannya
ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara pengetahuan
leksikal dalam B1 dengan dalam B2. Temuan lainnya menunjukkan bahwa
pengetahuan kebahasaan B1 tidak bisa dijadikan ukuran dalam keterampilan
B2.
Sekaitan dengan salah satu permasalahan yang dijadikan fokus
penelitian ini, yaitu yang mencoba melihat dampak dari menulis secara
kolaboratif terhadap peminimalan kesalahan sintaksis, Villamil dan De
Guerrero (1998) mencoba meneliti dampak dari
Peer Revision on L2 Writing. Hasil penelitiannya menyarankan bahwa
peer assistance atau yang dalam penelitian ini disebut
collaorative writing, bisa
membantu siswa menyadari potensinya sendiri dalam merevisi secara
efektif sebatas kemampuan linguistiknya. Villamil dan De Guerrero
meyakini bahwa
Peer Revision on L2 Writing harus dipandang sebagai sumber umpan balik yang sangat penting dalam kelas B2.
METODOLOGI PENELITIAN
Disain Penelitian
Untuk menganalisis kaitan antara pengetahuan sintaksis dengan
kesalahan sintaksis dalam karya tulis, hubungan antara kemampuan
analitik, hubungan antara pengetahuan sintaksis dengan kesalahan
sintaksis dalam tulisan, dan hubungan antara pengetahuan sintaksis
dengan kemampuan memparafrase digunakan teknik studi kasus yang
dianalisis dengan menggunakan
ex-post facto design. Sementara
itu, untuk mengkaji dampak pengajaran menulis kolaboratif terhadap
tingkat kesalahan sintaksis dalam tulisan responden, digunakan studi
kasus dengan
experimental design.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk mencari jawaban atas permasalahan penelitian yang dikaji dengan
ex-post facto design
adalah sebagai berikut: 1) Mengidentifikasi, memformulasikan, dan
melakukan penajaman permasalahan, 2) Merancang langkah-langkah
pengerjaan, 3) Menentukan responden penelitian, 4) Menyusun instrumen
penelitian, 5) Melakukan uji coba dan validasi instrumen, 6) Melakukan
pengumpulan data, 7) Menganalisis data,

Membuat laporan akhir penelitian
Sedangkan untuk masalah penelitian yang dikaji dengan experimental
design langkah yang dilakukan adalah: 1) Mengidentifikasi,
memformulasikan, dan melakukan penajaman permasalahan, 2) Merancang
langkah-langkah pengerjaan, 3) Menentukan responden penelitian, 4)
Menyusun instrumen penelitian, 5) Melakukan uji coba dan validasi
instrumen, 6) Melakukan eksperimen menulis kolaboratif, 7) Melakukan
pengumpulan data,

Menganalisis data, dan 9) Menarik kesimpulan.
Responden Penelitian
Responden penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa
S1 kependidikan semester tujuh yang terdiri dari kelas A dan B dengan
masing-masing kelas berjumlah 35 orang. Walaupun demikian, data yang
digunakan untuk menganalisis masing-masing variabel tidak sama
tergantung kelengkapan data yang terkumpul dari responden. Bisa jadi,
misalnya, untuk variabel X jumlah respondennya 34 sedangkan Y 18,
padahal kedua set data itu berasal dari responden yang sama. Hal ini
terjadi karena pengumpulan data dilakukan pada waktu yang berbeda
sehingga dapat terjadi ketika data itu dikumpulkan ada responden yang
tidak hadir. Jika dilihat kuliah yang telah ditempuh responden, sebagian
besar responden telah menyelesaikan mata kuliah Writing I-IV, Structure
1-IV, Grammar, dan Syntax sehingga secara teoretis diasumsikan bahwa
mereka telah mengenal teori menulis dan melakukan latihan yang terkait
dengan itu, termasuk penerapan tatabahasa dalam keterampilan menulis.
Responden Penelitian
Yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data tentang: 1)
pengetahuan sintaksis, 2) kesalahan sintaksis dalam tulisan baik pada
pre-test maupun
post-test, 3) kemampuan analitik, 4) keterampilan menulis, dan 5) keterampilan memparafrase sehingga instrumen yang diperlukan adalah:
1) tes pengetahuan sintaksis berupa identifikasi kesalahan
sintaksis yang diadaptasi dari tes terstandar, yaitu TOEFL Seksi 2,
bagian B dengan butir soal 40 buah;
2) tes keterampilan menulis berupa “writing task” yang harus
dikerjakan selama tiga kali yaitu draf awal, draf kedua dan draf akhir.
Topik setiap draf sama yaitu “My Campus” dengan jenis retorik
argumentasi;
3) tes kemampuan analitik yang dikembangan dari GRE, kemudian
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan jumlah soal 25 buah.
Sebelum digunakan, instrumen ini terlebih dahulu divalidasi dengan
penilaian psikolog, dan uji-coba dengan beberapa responden; dan
4) tes memparafrase dua kalimat pendek yang terdiri dari satu
kalimat dengan struktur sederhana dan satu kompleks. Selain itu
digunakan pula dua paragraf pendek mengenai teks perkotaan dan
“taking note”, serta satu paragraf panjang mengenai
“jet lag”. Teks yang dipilih adalah
authentic texts
yang disusun oleh penutur asli bahasa Inggris. Perbedaan jenis soal ini
diperlukan untuk mendeteksi kekuatan dan kelemahan responden dalam
memparafrase. Tingkat kesulitan teks yang diberikan beragam dari yang
mudah hingga yang sukar agar hasil yang diperoleh akan makin sahih.
Prosedur Analisis Data
Data pengetahuan sintaksis diperoleh dengan memberi skor
masing-masing 1 atau jawaban yang benar dan 0 untuk jawaban salah. Skor
ini kemudian dikonversi berdasarkan petunjuk konversi skor TOEFL yang
dikeluarkan
Educational Testing Service (ETS). Elemen yang
diteskan adalah kelas kata, verba, struktur kalimat, nomina dan
pronomina, rujukan pronomina, persesuaian, serta pembedaan adjektiva
dengan adverbia. Kesalahan sintaksis responden dihitung berdasarkan
Errors per T-Unit, yaitu unit yang dapat dipisahkan menjadi klausa. Jika
ada sebuah kalimat yang dihubungkan dengan
and, but, dan
or atau kalimat koordinatif maka hal itu dianggap dua
T-Unit, tetapi kalau penghubung subordinatif seperti
although, after, when, which dan sejenisnya dianggap satu
T-Unit.
Data keterampilan menulis diperoleh dengan memberi skor atas
keterampilan menulis responden ditinjau dari segi sintaksis saja. Dengan
kata lain, isi tulisan, organisasi, pilihan kata atau tanda baca dan
penggunaan huruf besar tidak menjadi perhatian dalam penelitian ini.
Skor kemampuan memparafrase diperoleh dengan memberi skor 1 pada
setiap penggunaan sinonim, variasi pola kalimat, pengubahan susunan ide,
memperpendek kalimat, memperkongkrit gagasan abstrak menjadi lebih
konkrit sehingga skor ideal yang dapat dicapai seorang responden adalah
25. Skor kemampuan analitik diperoleh dengan cara yang sama dengan apa
yang dilakukan terhadap data pengetahuan sintaksis responden, yaitu
dengan memberi skor pada setiap butir soal yang dijawab benar dan
mengkonversinya menjadi skor Z dan skor T sehingga skornya berkisar
antara 100-500.
Penghitungan angka-angka di atas dilakukan secara manual terlebih
dahulu. Setelah itu pengubahan skor mentah ke skor standar dilakukan
dengan bantuan
Microsoft Excel, seperti untuk mencari simpangan baku,
standard error, dan rata-rata. Untuk mencari hubungan antar variabel, uji analisis yang digunakan adalah
Pearson Product Moment, two-tailed hypothesis dengan tingkat kepercayaan 0.05. Untuk menguji perbedaan antara
pre-test dan
post-test pada kelompok kontrol dan eksperimen digunakan
paired t-test, sedangkan untuk menguji perbedaan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol digunakan
independent t-test. Penghitungan ini dibantu dengan SPSS.
Jika digambarkan dengan diagram maka uji analisis yang dilakukan
untuk tingkat 1) hubungan antara pengetahuan sintaksis dengan kesalahan
sintaksis, 2) hubungan antara pengetahuan sintaksis dengan keterampilan
menulis, 3) hubungan antara kemampuan analitik dengan kesalahan
sintaksis, 4) hubungan antara pengetahuan sintaksis dengan keterampilan
memparafrase adalah:
X Y
(Pearson Product Moment)
Sedangkan untuk mengidentifikasi perbedaan tingkat kesalahan sintaksis sebelum dan sesudah perlakuan adalah sebagai berikut:
Experiment T1 X T2
Control T1 X T2
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Hubungan antara pengetahuan sintaksis dengan kesalahan sintaksis dalam tulisan ahasiswa.
Dari 40 soal tes pengetahuan sintaksis skor rata-rata yang dicapai
responden adalah 29 dengan skor tertinggi 36 dan terendah 19 serta
standar deviasi 4.348. Rata-rata kesalahan yang dibuat responden adalah
1.4. Ini berarti bahwa setiap satu kalimat yang dibuat berbanding dengan
1.4 kesalahan. Analisis korelasi menunjukkan bahwa pengetahuan
sintaksis tidak berkorelasi secara signifikan dengan tingkat kesalahan
sintaksis dalam tulisan mahasiswa. Artinya, pengetahuan sintaksis bukan
merupakan faktor yang patut diduga berperan dalam timbulnya kesalahan
sintaksis dalam tulisan mahasiswa. Ini berarti kita dapat menduga ada
faktor lain yang turut andil yang menyebabkan terjadinya kesalahan
sintaksis (r=.0425, P=0.833).
Hubungan antara pengetahuan sintaksis dengan keterampilan parafrase.
Rata-rata kemampuan memparafrase responden adalah 11.8. Artinya, dari
kemungkinan 25 kalimat yang dapat mereka buat dalam parafrasenya,
rata-rata mereka membuat 11.8 kalimat benar. Skor rata-rata pengetahuan
sintaksis untuk variabel ini adalah 28.7. Jika dianalisis, maka terdapat
hubungan yang signifikan antara pengetahuan sintaksis dengan
keterampilan parafrase (r = 0.285, P= .044). Adanya korelasi yang
signifikan antara kedua variabel ini dapat dilihat dalam hubungan antara
kemampuan memparafrase dengan komponen-komponen kemampuan sintaksis
seperti dengan kata sifat (r=0.1762, P = 0.297), persesuaian (r = 0.279,
P = 0.047), kelas kata (r= 0.279, P=0.047), tapi tidak ada hubungan
dengan verba (r=0.150, P= 0.188), serta dengan nomina dan pronomina
(r=0.356, P=0.015). Jika dilihat komponen pembentuk kemampuan
memparafrase maka terlihat bahwa kemampuan sintaksis berkorelasi
signifikan dengan kemampuan memparafrase kalimat pendek (r=0.598, P=
0.000), kalimat panjang (r= 0.743, P= 0. 000), paragraf pendek (r=0.723,
P=0.000), ataupun dengan paragraf panjang (r=0.823, P=0.000).
Hubungan antara kemampuan analitik dengan kemampuan sintaksis, kemampuan menulis dan kesalahan sintaksis dalam tulisan
Untuk mengkaji kaitan antar variabel yang terkait dalam tahap ini
digunakan alat pengumpul data berupa tes kemampuan analitik, tes
kemampuan sintaksis, dan tes kemampuan menulis yang selain dinilai
secara holistik juga dikaji tingkat kesalahan sintaksis yang terjadi
didalamnya. Hasil analisis korelasional menunjukkan bahwa tidak ada
hubungan yang signifikan antara kemampuan analitik dengan kesalahan
sintaksis (r=-0.0272, P=0.459 antara kemampuan analitik dengan kemampuan
menulis (r=-0.104, P=0.345), antara kesalahan sintaksis dengan
kemampuan menulis (r=-0.2092, P=0.210), antara kemampuan sintaksis
dengan kesalahan sintaksis (r=-0.088, P=0.369), antara kemampuan
analitik dengan kemampuan sintaksis (r= -0.1041, P= 0.341), dan antara
kemampuan menulis dengan kemampuan sintaksis (r=0.0563, P=0.412).
Efektivitas menulis kolaboratif atas kesalahan sintaksis dalam tulisan mahasiswa.
Uji coba secara eksperimental untuk menguji dampak kegiatan menulis
secara kolaboratif terhadap kesalahan sintaksis memperlihatkan bahwa
saat
pre-test skor rata-rata kesalahan sintaksis baik kelompok
kontrol (2.1982) maupun kelompok eksperimen (2.180) tidak berbeda secara
signifikan yang ditunjukkan dengan skor (t(32) =15, P= 0.882). Setelah
dilakukan kegiatan menulis bersama atau kolaboratif, yaitu dengan
meminta teman sekelasnya mengoreksi tulisannya dihasilkan
draft terakhir tulisan. Setelah dibandingkan antara
draft awal
dengan tulisan akhir terlihat adanya tingkat kesalahan yang lebih
kecil. Rata-rata kesalahan yang dibuat oleh kelompok kontrol adalah 1.7
sedangkan yang dibuat kelompok eksperimen jauh lebih kecil yaitu 1.4212.
Kedua rata-rata ini berbeda secara signifikan dengan indikator skor
yang menunjukkan (t (30) = -3.06, P = 0.005).
Pembahasan
Penelitian ini bertujuan memahami variabel-variabel yang diperkirakan
memegang peranan penting dalam menentukan kesalahan sintaksis dalam
tulisan mahasiswa serta bagaimana upaya memperbaikinya serta variabel
lain yang diduga terkait dengan pengetahuan sintaksis. Variabel-variabel
yang dimaksud adalah kemampuan analitik, pengetahuan sintaksis,
kemampuan parafrase, dan kemampuan menulis.
Hasil analisis memperlihatkan bahwa ternyata kemampuan sintaksis
tidak menjadi prasyarat menentukan tinggi rendahnya tingkat kesalahan
sintaksis dalam tulisan mahasiswa. Dengan kata lain, bisa jadi seorang
responden memiliki pengetahuan sintaksis yang terbatas tetapi kesalahan
sintaksisnya bisa kecil. Dengan demikian, besar kemungkinan kemampuan
menulisnya baik. Hal yang sama terjadi dengan kemampuan analitik yang
tidak berkorelasi dengan tingkat kesalahan sintaksis, pengetahuan
sintaksis, dan kemampuan menulis. Ini berarti bahwa baik tidaknya
tulisan untuk kasus kelompok responden ini tidak terkait dengan
kemampuan analitik. Seseorang berkemampuan analitik tinggi kesalahan
sintaksisnya dan sekaligus kemampuan menulis dapat baik dapat pula
kurang baik, dan demikian pula sebaliknya.
Sementara itu, kemampuan parafrase yang merupakan keterampilan yang
cukup penting ternyata terkait dengan pengetahuan sintaksis baik dalam
memparafrase kalimat pendek, kalimat panjang, paragraf pendek, dan
paragraf panjang. Jika dihubungkan dengan hasil variabel sebelumnya kita
dapat menduga bahwa pengetahuan sintaksis tidak langsung memegang
peranan penting dalam keterampilan menulis yang lebih kompleks dan
abstrak tetapi melalui tahap-tahap yang berjenjang dimulai dari yang
lebih kongkrit sepert parafrase kalimat atau paragraf yang memang
obyeknya sudah ada di hadapan responden. Dengan kata lain, responden
baru menggunakan pengetahuan sintaksisnya secara sadar ketika berhadapan
dengan kegiatan menulis yang kongkrit, sedangkan pada kegiatan menulis
sebenarnya yang melibatkan berpikir lebih abstrak dan kompleks diduga
perhatian utama penulis bukan pada struktur sintaksis melainkan
keseringannya pada isi, organisasi, atau aspek lainnya.
Kemungkinan lain, terjadinya kesalahan sintaksis dalam tulisan
mahasiswa bisa jadi disebabkan oleh kecerobohan atau kemalasanan
responden saja. Responden mungkin secara tidak sadar tidak berusaha
berkonsentrasi pada sintaksis atau tidak berusaha memeriksa kembali
tulisannya baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Dugaan ini
diperkuat oleh data hasil eksperimen dengan teknik menulis kolaboratif.
Dengan teknik ini responden diminta menulis sebuah paragraf, tapi
sebelum dianggap selesai mereka meminta salah seorang temannya
mengoreksi tulisan tersebut. Dengan cara ini kesalahan sintaksis
berkurang secara signifikan. Semakin tinggi intensitas kerja kolaboratif
maka makin kecil kesalahan sintaksis yang dilakukan. Dengan kata lain,
kesalahan sintaksis yang cukup serius dalam setiap tulisan mahasiswa
sebenarnya dapat diturunkan dengan cara yang sederhana, walaupun usaha
ini tidak mampu menghilangkan kesalahan sintaksis seratus persen.
KESIMPULAN
Pada bagian ini kita dapat menyimpulkan bahwa kesalahan sintaksis
yang banyak ditemukan dalam tulisan mahasiswa tidak terkait dengan
rendahnya pengetahuan sintaksis mereka atau bahkan dengan rendahnya
kemampuan analitik mereka. Kemampuan sintaksis berperan dalam kemampuan
parafrase, suatu keterampilan yang cukup penting dalam mengembangkan
kemampuan menulis. Kesalahan sintaksis yang terjadi sebenarnya lebih
disebabkan karena belum tumbuhnya kebiasaan
proofreading atau
pembacaan kembali tulisan sebelum dianggap sebuah karya final.
Pengoreksian kembali tulisan baik oleh diri sendiri maupun orang lain
ternyata mampu menurunkana kesalahan sintaksis secara dramatis.
Untuk itu, pengoreksian tulisan oleh teman sebaya sudah sepantasnyaa
dikembangkan menjadi sebuah kegiatan yang tidak terpisahkan dari
kegiatan menulis. Selain karena mampu menurunkan kesalahan sintaksis,
kegiatan ini secara tidak langsung mengatasi keluhan dosen
writing
selama ini, yaitu kurangnya waktu yang tersedia untuk memeriksa tulisan
mahasiswa satu per satu. Manfaat lainnya adalah bahwa kegiasaan
proof reading
bermanfaat dalam kehdupan sehari-hari seperti memeriksa kembali surat
atau dokumen yang baru saja ditulis sehingga terhindari dari kesalahan
baik yang sederhana mapun yang fatal.
DAFTAR PUSTAKA
Aarts, F. dan Aarts, J. 1988.
English Syntactic Structure. New York: Prentice Hall.
Appel, Rene dan Muysken, Pieter (1987).
Language Contact And Bilingualism, Edward Arnold, Great Britain.
Bialystok, E. dan Ryan, E.B. (1985). A Metacognitive Framework for
the Development of First and Second Language Skills. In D.L.
Forrest-Pressly, G.E. MacKinnon, & T.G. Waller (
eds).
Metacognition, Cognition and Human Performance.
1, 207-252, New York Academic Press.
Bindman, M. dan Nunez, T. (1997).
Can Learning two Languages Aid First Language Literacy Acquisition? MPhil Dissertation. Institute of Education, University of London.
Bowey, Judith A. (1986). Syntactic Awareness in Relation to Reading Skill and Ongoing Reading Comprehension Monitoring.
Applied Psycholinguistics.,41, 282-299.
Brown, H. D. 1994.
Teaching by Principles. Englewood Cliffs: Prentice Hall Regents.
Cummins, J. (1978). Metalinguistic Development of Children in
Bilingual Education Programmes: Data from Irish and Canadian
Ukrainian-English Programmes. In Galambos, Sylvia Joseph, and Hakuta,
Kenji (1988). Subject-specific and Task Specific Characteristics of
Metalinguistic Awareness in Bilingual Children.
Applied Psycholinguistics,
9, 141-162.
Duques, Susan Lyon. (1989). Grammatical Deficiencies in Writing: Investigation of Learning Disabled College Students.
Reading and Writing: An interdisciplinary Journal,
1, 309-325.
Haiman, John (ed.). (1985)
Iconicity in Syntax; Philadelphia/Amsterdam: John Benjamins.
Hamied, Fuad Abdul. 1997. Kemampuan Analitik Mahasiswa dan Dosen:
Studi Kasus Pada Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, FPBS IKIP Bandung.
Makalah Seminar.
Hughey, Jane B., Deanna R. Wormuth, V. Faye Hartfiel, dan Holly L.
Jacobs. 1983. Teaching ESL Composition: Principles and Techniques.
Cambridge, MA: Newbury House.
Lengkanawati, Nenden Sri. (1990). Aspek Logika dan Aspek Linguistik
dalam Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Thesis S2
IKIP Bandung. Tidak diterbitkan.
Read, Charles (1978). Children’s Awareness of Language, with Emphasis
on Sound System. In Sinclair, A, Jarvella, R.J. dan Levelt, W.J. (
eds).
The child’s conception of language, Springer-Verlag, Germany.
Richard, J. (1985). “Iconicity, isomorphism, and non-arbitrary coding
in syntax,” Dalam: John Haiman (ed.), Iconicity in Syntax, 187-219.
Rubin, Hyla (1988). Morphological Knowledge and Early Writing Ability.
Language and Speech, 31/
4, 337-355.
Siegel dan Ryan (1988). Development of Grammatical-sensitivity,
Phonological, and Short-term Memory Skills in Normally Achieving and
Learning Disabled Children.
Developmental Psychology,
24/
1, 28-37.
Smith-Lock, Karen M. (1991). Errors of Inflection in the Writing of Normal and Poor Readers.
Language and Speech,
34/
4, 341-350.
Tunmer, William E. dan Bowey, J. A. (1980). The Role of Linguistic
Awareness in Theory of Reading Acquisition. In Pratt, C., Tunmer,
W.e., and Bowey, J. (1984). Children’s Capacity to Correct Grammatical
Violation in Sentences.
Journal of Child Language,
2, 129-141.
Widdowson, H.G. (1983). New Starts At Different Kinds of Failure. In Freedman, Aviva, Pringle, Ian and Yalden, Janice (
eds).
Learning to Write: First Language/second Language, CCTE, Longman, USA.
Van Valin Jr, R.D dan La Polla, R.J. 1997.
Syntax. Structure, Meaning, and Function. United Kingdom: Cambridge University Press.
Verhallen, M. dan Schoonen, R. (1993), ‘Lexical knowledge of monolingual and bilingual children’,
Applied Linguistics, 14, 344-363
Villamil, 0., dan de Guerrero, M. C. M. (1998). Assessing the impact of peer revision on L2 writing.
AppliedLinguistics, 19, 491-514.